Inilah cara mengatasi serbuan Ulat Bulu di tempat anda. Cara mengatasi Ulat Bulu dengan menggunakan Balsem. Memang serangan Ulat Bulu akhir-akhir ini sangat meresahkan warga sekitar yang terkena dampak serangan ulat bulu ini. Serangan ulat bulu secara besar-besaran di empat kecamatan Kabupaten Probolinggo membuat pemkab kelabakan karena stok insektisida yang menjadi senjata andalan mulai menipis. Sebaliknya, populasi ulat bulu tidak juga berkurang.
Sementara itu, warga yang juga menderita akibat serangan ulat bulu itu sebagian besar masih bertahan melawan gatal dengan olesan balsam. Sebagian lagi lari ke puskesmas untuk mendapat obat gratis.
Diberitakan Surya sebelumnya, serangan ulat bulu kian menggila di Kabupaten Probolinggo dan sudah cenderung menjadi teror bagi warga karena kehidupan normal warga empat kecamatan itu sudah terganggu. Gangguan itu mulai merata di sepuluh desa di empat kecamatan yaitu, Kecamatan Leces, Tegalsiwalan, Bantaran, dan Sumberasih. Sepuluh desa itu, antara lain, Desa Pondok Wuluh, Clarak, Sumber Kedawung, Desa Leces, Banjarsawah, Sumberbulu, Desa Sumberasih, dan Desa Bantaran.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo, Ahmad Hasyim Asyari mengatakan, insektisida yang digunakan untuk memerangi ulat itu adalah stok petani yang dicadangkan untuk keperluan jangka panjang. Yang dikhawatirkan, kata Hasyim, stok petani mulai menipis dan terancam kosong ketika mereka butuh untuk melindungi tanaman lainnya.
Menipisnya stok insektisida di Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo itu memaksa pejabat terkait minta bantuan Dinas Pertanian Pemprov Jatim. Padahal, cuaca yang basah karena hujan terus turun diyakini sangat cocok bagi perkembangan populasi ulat-ulat itu. “Kami benar-benar butuh bantuan insektisida dari provinsi,” kata Hasyim.
Yang membuat Hasyim ketar ketir adalah kabar dari Pemprov Jatim bahwa stok mereka juga menipis. “Tapi, setelah kami koordinasikan, ternyata di Provinsi stoknya juga menipis dan baru dijanjikan pertengahan tahun ini,” katanya.
Sementara itu, untuk membantu warga Probolinggo memerangi ulat bulu dari spesies dasychira inclusa itu, Dinas Pertanian Jatim mengirimkan 150 liter insektisida dan 10 alat semprot mesin. Bahkan penyemprotan juga akan dilakukan menggunakan mobil yang berkeliling ke sejumlah wilayah yang diserang ulat bulu, hari ini Kamis (31/3/2011).
Kepala Dinas Pertanian Jatim Wibowo Eko Putro mengatakan, gerakan pengendalian itu sudah disiapkan sebelum serangan ulat bulu muncul, karena serangan itu sudah terdeteksi, ketika instansinya memantau di Probolinggo, khususnya di sekitar Gunung Bromo. ”Makanya antisipasi dapat cepat kita lakukan,” ujarnya, kemarin.
Eko menduga, ledakan populasi ulat bulu itu akibat perubahan ekologi di lereng Gunung Bromo yang meletus Desember 2010. Sebelum meletus, di lereng gunung itu banyak terdapat pohon tinggi tempat berteduh dasychira inclusa. Ketika pohon itu tersiram abu gunung meletus, hewan-hewan itu bermigrasi ke dataran yang lebih rendah, tetapi di pohon yang juga tinggi. Mereka pun memilih pohon mangga dan total 8.877 batang pohon mangga menjadi korban. Rinciannya, Leces 2.067, Tegalsiwalan 3.464, Bantaran 1.640, dan 770 di Sumberasih.
Menurut Eko, ulat-ulat itu akan terus mencari pohon untuk berlindung dan dimakan. Kalau mangga habis, mereka bisa saja merambah pohon pisang. Maka semua tanaman pisang yang ada di daerah sekitar situ juga harus diwaspadai. ”Hasil pengamatan tim itu sudah ada,” katanya.
Dikhawatirkan migrasi kupu-kupu penghasil ulat itu terus berlangsung. Karena itu, empat daerah penghasil mangga lain di Jatim seperti Pasuruan, Situbondo, Bondowoso dan Gresik harus waspada.
”Tak hanya itu saja, tanaman perkebunan yang ada di sekitar Bromo – khususnya di wilayah Malang, Lumajang, dan Pasuruan juga harus diwaspadai. Karena tidak menutup kemungkinan ulat juga akan menyerang tanaman perkebunan,” prediksinya.
Borong balsem
Sementara itu, meski sudah mendapat jaminan pengobatan gratis, warga empat kecamatan di Probolinggo lebih menyukai pengobatan sendiri untuk mengatasi kegatalan akibat sentuhan dengan ulat bulu. “Karena kalau digaruk makin gatal dan meluas. Makanya, kami pakai balsem,” ujar Agus, warga Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces, kepada Surya.
Tak hanya menggunakan balsem, warga juga ada yang menggunakan minyak goreng, untuk menghindari gatal pada kulit. Anehnya, meski diolesi minyak goreng, rasa gatal pada kulit berkurang. “Kalau tak ada rotan akar pun jadi. Pakai minyak goreng saja,” imbuh warga lainnya bernama Dwi.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dr Endang Astuti menjelaskan, bulu ulat tersebut mengandung alergen yang menimbulkan reaksi hipersensitif pada kulit. Gejala klinisnya, muncul bintik sampai benjolan kecil yang terasa gatal. “Jika digaruk, itu bisa iritasi. Bahkan, rasa gatalnya akan menyebar,” katanya.
Itu sebabnya, Endang mengimbau masyarakat supaya segera berobat ke puskesmas di kecamatan maupun di puskesmas pembantu di tingkat desa. “Obatnya gratis,” tukasnya. [Tribunnews/Surya]
read more...
Sementara itu, warga yang juga menderita akibat serangan ulat bulu itu sebagian besar masih bertahan melawan gatal dengan olesan balsam. Sebagian lagi lari ke puskesmas untuk mendapat obat gratis.
Diberitakan Surya sebelumnya, serangan ulat bulu kian menggila di Kabupaten Probolinggo dan sudah cenderung menjadi teror bagi warga karena kehidupan normal warga empat kecamatan itu sudah terganggu. Gangguan itu mulai merata di sepuluh desa di empat kecamatan yaitu, Kecamatan Leces, Tegalsiwalan, Bantaran, dan Sumberasih. Sepuluh desa itu, antara lain, Desa Pondok Wuluh, Clarak, Sumber Kedawung, Desa Leces, Banjarsawah, Sumberbulu, Desa Sumberasih, dan Desa Bantaran.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo, Ahmad Hasyim Asyari mengatakan, insektisida yang digunakan untuk memerangi ulat itu adalah stok petani yang dicadangkan untuk keperluan jangka panjang. Yang dikhawatirkan, kata Hasyim, stok petani mulai menipis dan terancam kosong ketika mereka butuh untuk melindungi tanaman lainnya.
Menipisnya stok insektisida di Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo itu memaksa pejabat terkait minta bantuan Dinas Pertanian Pemprov Jatim. Padahal, cuaca yang basah karena hujan terus turun diyakini sangat cocok bagi perkembangan populasi ulat-ulat itu. “Kami benar-benar butuh bantuan insektisida dari provinsi,” kata Hasyim.
Yang membuat Hasyim ketar ketir adalah kabar dari Pemprov Jatim bahwa stok mereka juga menipis. “Tapi, setelah kami koordinasikan, ternyata di Provinsi stoknya juga menipis dan baru dijanjikan pertengahan tahun ini,” katanya.
Sementara itu, untuk membantu warga Probolinggo memerangi ulat bulu dari spesies dasychira inclusa itu, Dinas Pertanian Jatim mengirimkan 150 liter insektisida dan 10 alat semprot mesin. Bahkan penyemprotan juga akan dilakukan menggunakan mobil yang berkeliling ke sejumlah wilayah yang diserang ulat bulu, hari ini Kamis (31/3/2011).
Kepala Dinas Pertanian Jatim Wibowo Eko Putro mengatakan, gerakan pengendalian itu sudah disiapkan sebelum serangan ulat bulu muncul, karena serangan itu sudah terdeteksi, ketika instansinya memantau di Probolinggo, khususnya di sekitar Gunung Bromo. ”Makanya antisipasi dapat cepat kita lakukan,” ujarnya, kemarin.
Eko menduga, ledakan populasi ulat bulu itu akibat perubahan ekologi di lereng Gunung Bromo yang meletus Desember 2010. Sebelum meletus, di lereng gunung itu banyak terdapat pohon tinggi tempat berteduh dasychira inclusa. Ketika pohon itu tersiram abu gunung meletus, hewan-hewan itu bermigrasi ke dataran yang lebih rendah, tetapi di pohon yang juga tinggi. Mereka pun memilih pohon mangga dan total 8.877 batang pohon mangga menjadi korban. Rinciannya, Leces 2.067, Tegalsiwalan 3.464, Bantaran 1.640, dan 770 di Sumberasih.
Menurut Eko, ulat-ulat itu akan terus mencari pohon untuk berlindung dan dimakan. Kalau mangga habis, mereka bisa saja merambah pohon pisang. Maka semua tanaman pisang yang ada di daerah sekitar situ juga harus diwaspadai. ”Hasil pengamatan tim itu sudah ada,” katanya.
Dikhawatirkan migrasi kupu-kupu penghasil ulat itu terus berlangsung. Karena itu, empat daerah penghasil mangga lain di Jatim seperti Pasuruan, Situbondo, Bondowoso dan Gresik harus waspada.
”Tak hanya itu saja, tanaman perkebunan yang ada di sekitar Bromo – khususnya di wilayah Malang, Lumajang, dan Pasuruan juga harus diwaspadai. Karena tidak menutup kemungkinan ulat juga akan menyerang tanaman perkebunan,” prediksinya.
Borong balsem
Sementara itu, meski sudah mendapat jaminan pengobatan gratis, warga empat kecamatan di Probolinggo lebih menyukai pengobatan sendiri untuk mengatasi kegatalan akibat sentuhan dengan ulat bulu. “Karena kalau digaruk makin gatal dan meluas. Makanya, kami pakai balsem,” ujar Agus, warga Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces, kepada Surya.
Tak hanya menggunakan balsem, warga juga ada yang menggunakan minyak goreng, untuk menghindari gatal pada kulit. Anehnya, meski diolesi minyak goreng, rasa gatal pada kulit berkurang. “Kalau tak ada rotan akar pun jadi. Pakai minyak goreng saja,” imbuh warga lainnya bernama Dwi.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dr Endang Astuti menjelaskan, bulu ulat tersebut mengandung alergen yang menimbulkan reaksi hipersensitif pada kulit. Gejala klinisnya, muncul bintik sampai benjolan kecil yang terasa gatal. “Jika digaruk, itu bisa iritasi. Bahkan, rasa gatalnya akan menyebar,” katanya.
Itu sebabnya, Endang mengimbau masyarakat supaya segera berobat ke puskesmas di kecamatan maupun di puskesmas pembantu di tingkat desa. “Obatnya gratis,” tukasnya. [Tribunnews/Surya]





